Kebudayaan (Barat, Islam, Hindu-Budha)
Kebudayaan
Menurut Edward B.Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang
kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat
seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemarjan dan
Soelaiman soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta
masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian
mengenai kebudayaan yang mana akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi
sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam
kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan
kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang
berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya
pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni,
dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan
kehidupan bermasyarakat.
Unsur-unsur
kebudayaan
Ada beberapa
pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara
lain sebagai berikut:
- Melville
J.Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, dan kekuasaan
politik .
- Bronislaw
Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi: sistem
norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat
untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya organisasi ekonomi. Alat-alat dan lembaga-lembaga atau
petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan
utama) organisasi kekuatan (politik).
"KEBUDAYAAN
ISLAM"
Secara
umum arti kebudayaan yang sebenarnya ialah suatu hasil daya pemikiran dan
pemerahan tenaga lahir manusia, ia adalah gabungan antara tenaga fikiran dengan
tenaga lahir manusia ataupun hasil daripada gabungan tenaga batin dan tenaga
lahir manusia. Apa yang dimaksudkan gabungan antara tenaga batin (daya
pemikiran) dengan tenaga lahir ialah apa yang difikirkan oleh manusia itu terus
dibiat dan dilaksanakan. Apa yang difikirkannya itu dilahirkan dalam bentuk
sikap. Maka hasil daripada gabungan inilah yang dikatakan kebudayaan.
Jadi
kalau begitu, seluruh kemajuan baik yang lahir ataupun yang batin walau
dibidang apapun, dianggap kebudayaan. Sebab hasil daripada dayapemikiran dan
daya usaha tenaga lahir manusia akan tercetuslah soal-soal politik, pendidikan,
ekonomi, sastera dan seni, pembangunan dan kemajuan-kemajuan lainnya.
Dan
kalau begitu pengertian kebudayaan maka agama-agama diluar Islam juga bisa
dianggap kebudayaan. Ini adalah karena agama-agama seperti Budha, Hindu,
kristen (yang telah banyak diubah-ubah) itulahir hasil dari pemikiran (ide-ide)
manusia. Ia adalah ciptaan akal manusia. Sebaliknya agama Islam tidak bisa
dianggap kebudayaan sebab ia bukan hasil daripada pemikiran dan ciptaan
manusia, bukan hasil budi dan daya (tenaga lahir) manusia. Agama Islam adalah
sesuatu yang diwahyukan oleh Allah SWT.
Oleh
sebab itu siapa yang mengatakan bahwa agama Islam itu kebudayaan maka dia telah
melakukan satu kesalahan yang besar dan bisa jatuh murtad, karena dia telah
mengatakan satu perkara mungkar, yang tidak seyogyanya disebut. Oleh karena
itu, hendaklah kita berhati-hati. begitu banyak sekali ahli kebudayaan pada
masa ini menyuarakan dengan lantang bahwa Islam adalah kebudayaan dengan alasan
bahwa ia adalah cara hidup atau ‘way of life’ . Agama islam adalah bukan
kebudayaan, sebab ia bukan hasil daripada tenaga fikiran dan tenaga lahir manusia.
Agama
Islam adalah wahyu dari Allah SWT yang disampaikan kepada Rasulullah SAW yang
mengandung peraturan-peraturan untuk jadi panduan hidup manusia agar selamat di
dunia dan akhirat. tetapi agama-agama diluar Islam memang kebudayaan, sebab
agama-agama tersebut adalah hasil ciptaan manusia daripada daya pemikiran
mereka, daripada khayalan dan angan-angan.
Namun
begitu walaupun agama islam itu bukan kebudayaan tetapi ia sangat mendorong
(bahkan turut mengatur) penganutnya berkebudayaan. Islam bukan kebudayaan tapi
mendorong manusia berkebudayaan. Islam mendorong berkebudayaan dalam berfikir,
berekonomi, berpolitik, bergaul, bermasyarakat, berpendidikan, menyusun rumah
tangga dan lain-lain. Jadi, sekali lagi dikatakan, agama Islam itu bukan
kebudayaan, tapi mendorong manusia berkebudayaan. Oleh karena itu seluruh
kemajuan lahir dan batin itu adalah kebudayaan maka dengan kata-kata lain,
Islam mendorong umatnya berkemajuan.
Agama
Islam mendorong umatnya berkebudayaan dalam semua aspek kehidupan termasuk dalam
bidang ibadah. Contohnya dalam ibadah yang asas yaitu sembahyang. Dalam
Al-Qur’an ada perintah : Terjemahnya : Dirikanlah sembahyang (Al-Baqarah: 43) Perintah itu
bukan kebudayaan karena ia adalah wahyu daripada Allah SWT. Tetapi apabila kita
hendak melaksanakan perintah “dirikanlah sembahyang” maka timbullah daya
pemikiran kita, bagaimana hendak bersembahyang, dimana tempat untuk
melaksanakannya dan lain-lain. Secara ringkas, kitapun bersembahyanglah setelah
mengkaji Sunnah Rasulullah yang menguraikan kehendak wahyu itu tadi. Firman
Allah : Terjemahnya:
Tiadalah Rasul itu berkata-kata melainkan wahyu yang diwahyukan padanya (An
Najm: 3-4) Umpamanya
kalau sembahyang berjemaah, kita berbaris, dalam saf-saf yang lurus dan rapat.
Jadi dalam kita melaksanakan barisan saf yanglurus dan rapat itu adalah budaya,
karena ia hasil usaha tenaga lahir kita yang terdorong dari perintah wahyu.
Dan
kalau dilihat dalam ajaran Islam, kita dikehendaki bersembahyang di tempat yang
bersih. Jadi perlu tempat atau bangunan yang bersih bukan saja bersih dari
najis tetapi bersih daripada segala pemandangan yang bisa menganggu kekhusyukan
kita pada saat kita bersembahyang. Maka terpaksalah kita umat Islam menggunakan
pikiran, memikirkan perlunya tempat-tempat sembahyang yaitu mushalla, surau
ataupun mesjid. Apabila kita membangun surau atau mesjid hasil dari dorongan
wahyu “Dirikanlah sembahyang” itu maka lahirlah kemajuan, lahirlah
kebudayaan."
"Jadi agama Islam mendorong manusia berkebudayaan dalam
beribadah padahal ia didorong oleh perintah wahyu “Dirikanlah sembahyang” yang
bukan kebudayaan. Tapi karena hendak mengamalkan tuntutan perintah wahyu ini,
maka muncullah bangunan-bangunan mesjid dan surau-surau yang beraneka bentuk
dan didalamnya umat Islam sembahyang berbaris dalam saf-saf yang lurus dan
rapat. Ini semua merupakan kebudayaan hasil tuntutan wahyu.
"KEBUDAYAAN
HINDU-BUDDHA"
Perkembangan
pengaruh Hindu-Buddha yang penting meliputi tiga hal, yakni :
- Dengan
berkembangnya pengaruh Hindu-Buddha, maka bangsa Indonesia memasuki zaman
Sejarah
- Kesenian
yang bercorak Hindu-Buddha berkembang di Indonesia
- Di
Indonesia berdiri kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha Jalur perdagangan India-Cina melalui
Indonesia. Wilayah Indonesia terdiri atas pulau
besar dan kecil yang dihubungkan oleh selat dan laut, hal ini menyebabkan
sarana pelayaran merupakan lalu lintas utama penghubung antarpulau.
Pelayaran ini dilakukan dengan rangka mendorong aktivitas perdagangan.
Pelayaran perdagangan yang dilakukan oleh kerajan-kerajaan di Indonesia bukan
hanya dalam wilayah Indonesia saja, tetapi telah jauh sampai ke luar
wilayah Indonesia. Pelayaran
dan perdagangan di Asia semakin ramai setelah ditemukan jalan melalui laut
antara Romawi dan Cina. Rute jalur laut yang dilalui dalam hubungan dagang
Cina dan Romawi telah mendorong munculnya hubungan dagang pada
daerah-daerah yang dilalui, termasuk wilayah Indonesia oleh karena posisi
Indonesia yang strategis di tengah-tengah jalur hubungan dagang Cina
dengan Romawi, maka terjadillah hubungan dagang antara kerajaan-kerajaan
di Indonesia dan Cina beserta India.
Teori masuknya dan berkembangnya Agama serta Kebudayaan
Hindu-Buddha di Indonesia Melalui hubungan perdagangan, berkembanglah kebudayaan-kebudayaan
yang dibawa oleh para pedagang di Indonesia. Hubungan perdagangan antara
Indonesia dan India membawa agama Hindu dan Buddha tersebar di Indonesia serta
dianut oleh raja-raja dan para bangsawan. Dari lingkungan raja dan bangsawan
itulah agama Hindu-Buddha tersebar ke lingkungan rakyat biasa.
Penyiaran Agama Buddha di Indonesia. Agama Buddha masuk ke
Indonesia dibawa oleh para biksu. Antara lain seorang biksu dari Kashmir
bernama Gunawarman datang ke Indonesia sekitar tahun 240. Gunawarman adalah
seorang biksu Buddha Hinayana. Pada tahun-tahun berikutnya, para biksu Buddha
dari Perguruan Tinggi Nalanda (Benggala, India) pun datang ke Indonesia. Makin
lama pengaruh Buddha makin berkembang di Indonesia. Penyiaran agama Buddha di
Indonesia lebih awal dari agama Hindu. Dalam penyebarannya agama Buddha
mengenal adanya misi penyiar agama yang disebut, Dharmadhuta. Tersiarnya agama
Buddha di Indonesia, diperkirakan sejak abad ke-2 Masehi, dibuktikan dengan
penemuan Arca Buddha dari perunggu di Jember, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Arca-arca itu berlanggam Amarawati. Namun, belum diketahui siapa pembawanya
dari India Selatan ke Indonesia. Di samping itu, juga ditemukan arca Buddha
dari batu di Palembang.
Penyiaran Agama Hindu di Indonesia. Proses masuknya agama Hindu di
Indonesia dibawa oleh kaum pedagang, baik pedagang India yang datang ke
Indonesia maupun pedagang dari wilayah Indonesia yang berlayar ke India. Akan
tetapi, di lain pihak terdapat beberapa teori yang berbeda tentang penyebaran
agama Hindu ke Indonesia. Pendapat atau teori tersebut di antarannya :
ü Teori Sudra, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke Indonesia
dibawa oleh orang-orang India yang berkasta Sudra, karena mereka dianggap
sebagai orang-orang buangan.
ü Teori Waisya, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke Indonesia
dibawa oleh orang-orang India berkasta Waisya, karena mereka terdiri atas para
pedagang yang datang dan kemudian menetap di salah satu wilayah di Indonesia.
Bahkan banyak di antara pedagang itu yang menikah dengan wanita setempat.
ü Teori Ksatria, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke
Indonesia dibawa oleh orang-orang India berkasta Ksatria. Hal ini disebabkan
terjadi kekacauan politik di India, sehingga para Ksatria yang kalah melarikan
diri ke Indonesia. Mereka lalu mendirikan kerajaan-kerajaan dan menyebarkan
agama Hindu.
ü Teori Brahmana, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu dilakukan
oleh kaum Brahmana. Kedatangan mereka ke Indonesia untuk memenuhi undangan
kepala suku yang tertarik dengan agama Hindu. Kaum Brahmana yang datang ke
Indonesia inilah yang mengajarkan agama Hindu ke masyarakat.
Dari
keempat teori tersebut, hanya teori Brahmana yang dianggap sesuai dengan
bukti-bukti yang ada. Bukti-bukti tersebut diantaranya :
- Agama
Hindu bukan agama yang demokratis, karena urusan keagamaan menjadi
monopoli kaum Brahmana, sehingga hanya golongan Brahmana yang berhak dan
mampu menyiarkan agama Hindu.
- Prasasti yang pertama kali ditemukan berbahasa Sansekerta, sedangkan di India bahasa itu hanya digunakan dalam kitab suci dan upacara keagamaan. Jadi, hanya kaum Brahmana-lah yang mengerti dan menguasai penggunaan bahasa tersebut.
PERKEMBANGAN
AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDU-BUDDHA
Tersebarnya
pengaruh Hindu dan Buddha di Indonesia menyebabkan terjadinya berbagai
perubahan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Perubahan-perubahan itu terlihat
dengan jelas pada kehidupan masyarakat Indonesia di berbagai daerah di
Indonesia.
Fakta
tentang Proses Interaksi Masyarakat di Berbagai Daerah dengan Tradisi
Hindu-Buddha
Masuk dan berkembangnya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia
menimbulkan perpaduan budaya antara budaya Indonesia dengan budaya
Hindu-Buddha. Perpaduan dua budaya yang berbeda ini dapat disebut dengan
akulturasi, yaitu dua unsur kebudayaan bertemu dan dapat hidup berdampingan
serta saling mengisi dan tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua
kebudayaan tersebut.
Namun, sebelum masuknya pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha,
masyarakat di wilayah Indonesia telah memiliki kebudayaan yang cukup maju.
Unsur-unsur kebudayaan asli telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan
masyarakat Indonesia. Unsur-unsur kebudayaan Hindu-Buddha yang masuk ke
Indonesia diterima dan diolah serta disesuaikan dengan kondisi kehidupan
masyarakat Indonesia, tanpa menghilangkan unsur-unsur asli. Oleh karena
itu, Kebudayaan Hindu-Buddha yang masuk ke Indonesia tidak diterima begitu
saja. Hal ini disebabkan :
Ø Masyarakat di Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang
cukup tinggi, sehingga masuknya kebudayaan asing menambah perbendaharaan
kebudayaan Indonesia.
Ø Masyarakat di Indonesia memiliki kecakapan istimewa yang disebut
dengan local genius, yaitu kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur
kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadiannya.
Munculnya
pengaruh Hindu-Buddha (India) di Indonesia sangat besar dan dapat terlihat
melalui beberapa hal seperti :
·
Seni Bangunan. Seni Bangunan yang
menjadi bukti berkembangnya pengaruh Hindu Buddha di Indonesia pada bangunan Candi. Candi
Hindu maupun Candi Buddha ditemukan di Sumatera, Jawa, dan Bali pada dasarnya
merupakan perwujudan akulturasi budaya lokal dengan bangsa India. Pola dasar
candi merupakan perkembangan dari zaman prasejarah tradisi megalitikum, yaitu
bangunan punden berundak yang mendapat pengaruh Hindu-Buddha, sehingga menjadi
wujud candi, seperti Candi Borobudur.
·
Seni Rupa. Unsur seni rupa atau
seni lukis India telah masuk ke Indonesia. Hal ini terbukti dengan telah
ditemukannya arca Buddha berlanggam Gandara di kota Bangun, Kutai. Juga patung
Buddha berlanggam Amarawati ditemukan di Sikendeng (Sulawesi Selatan). Seni
rupa India pada Candi Borobudur ada pada relief-relief ceritera Sang Buddha
Gautama. Relief pada Candi Borobudur pada umumnya lebih menunjukkan suasanan
alam Indonesia, terlihat dengan adanya lukisan rumah panggung dan hiasan burung
merpati. Di samping itu, juga terdapat hiasan perahu bercadik. Lukisan-lukisan
tersebut merupakan lukisan asli Indonesia, karena lukisan seperti itu tidak
pernah ditemukan pada candi-candi yang ada di India. Juga relieef Candi
Prambanan yang memuat ceritera Ramayana.
·
Seni Sastra. Seni sastra India
turut memberi corak dalam seni sastra Indonesia. Bahasa sansekerta sangat besar
pengaruhnya terhadap perkembangan sastra Indonesia. Prasasti-prasasti awal
menunjukkan pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia, seperti yang ditemukan di
Kalimantan Timur, Sriwijaya, Jawa Barat, Jawa Tengah. Prasasti itu ditulis
dalam bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa. Dalam perkembangan bahasa Indonesia
dewasa ini, pengaruh bahasa Sansekerta cukup dominan terutama dalam
istilah-istilah pemerintahan juga kitab-kitab kuno di Indonesia banyak yang
menggunakan bahasa Sansekerta. Contohnya adalah :
1. Arujunawiwaha, karya Empu Kanwa pada zaman pemerintahannya
Airlangga.
2. Bharatayudha, karya Empu Sedah dan Empu Panuluh pada zaman
kerajaan Kediri.
3. Gatutkacasraya, karya Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri.
4. Arjunawijaya, kerya Empu tantular pada zaman Kerajaan Majapahit.
5. Kalender. Diadopsinya sistem kalender atau penanggalan India di
Indonesia merupakan wujud dari akulturasi, yaitu dengan penggunaaan tahun Saka.
Di samping itu, juga ditemukan Candra Sangkala atau kronogram dalam usaha
memperingati peristiwa dengan tahun atau kalender Saka. Candra Sangkala adalah
angka huruf berupa susunan kalimat atau gambaran kata. Bila berupa gambar harus
dapat diartikan kedalam bentuk kalimat.
6. Kepercayan dan Filsafat. Sebelum masuknya pengaruh
Hindu-Buddha ke Indonesia. bangsa Indonesia telah mengenal dan memiliki
kepercayaan, yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang. Kepercayaan itu bersifat
animisme dan dinamisme. Kemudian, masuknya pengaruh Hindu-Buddha ke Indonesia
mengakibatkan terjadinya akulturasi. Masuk dan berkembangnya pengaruh terutama
terlihat dari segi pemujaan terhadap roh nenek moyang dan pemujaan dewa-dewa
alam.
7. Pemerintahan. Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha, bangsa
Indonesia mengenal sistem pemerintahan. Sistem pemerintahan kepala suku
berlangsung secara demokratis, yaitu salah seorang kepala suku merupakan
pemimpin yang dipilih dari kelompok sukunya, karena memiliki kelebihan dari
anggota kelompok suku lainnya. Akan tetapi, setelah masuknya pengaruh
Hindu-Budha, tata pemerintahan disesuaikan dengan sistem kepala pemerintahan
yang berkembang di India. Seorang kepala pemerintahan bukan lagi seorang
kepala suku, melainkan seorang raja, yang memerintahkan kerajaannya secara
turun-temurun. ( Bukan lagi ditentukan oleh kemampuan, melainkan oleh
keturunan).
"BUDAYAAN
BARAT"
(kadang-kadang
disamakan dengan peradaban Barat atau peradaban Eropa), mengacu
pada buday yang berasal Eropa. "Istilah “budaya Barat” digunakan sangat luas untuk merujuk
pada warisan norma norma sosial, nilai nilai etika, adat istiadat,keyakinan
agama, sistem politik, artefak budaya khusus, serta teknologi. Secara
spesifik, istilah budaya Barat dapat ditujukan terhadap:
u Pengaruh budaya klasik dan Renaisans Yunani Romawi dalam
hal seni, filsafat, sastra, dan tema hukum dan tradisi, dampak sosial budaya
dari periode migrasi dan warisan budaya keltik, Jermanik, Romanik, Slavik,
dan kelompok etnis lainnya, serta dalam hal tradisi rasionalisme dalam
berbagai bidang kehidupan yang dikembangkan oleh filosofi helenistik,
skolastitisme, humanisme, revolusi ilmiah dan pencerahan, dan termasuk
pula pemikiran politik, argumen rasional umum yang mendukung kebebasan
berpikir, hakasasi manusia,kesetaraan dan nilai-nilai demokrasi yang
menentang irasionalitas dan teokrasi.
u Pengaruh budaya Alkitab Kristiani dalam hal pemikiran rohani,
adat dan dalam tradisi etika atau moral, selama masa Pasca Klasik.
u Pengaruh budaya Eropa Barat dalam hal seni, musik, cerita
rakyat, etika dan tradisi lisan, dengan tema-tema yang dikembangkan lebih
lanjut selama masa Romantisisme.
u Konsep budaya Barat umumnya terkait dengan definisi
klasik dari unia Barat. Dalam definisi ini, kebudayaan Barat adalah
himpunan sastra, sains, poloitik, serta prinsip-prinsip artistik dan
filosofi yang membedakannya dari peradaban lain. Sebagian besar
rangkaian tradisi dan pengetahuan tersebut umumnya telah dikumpulkan dalam
kanon barat.Istilah ini juga telah dihubungkan dengan negara-negara yang
sejarahnya amat dipengaruhi oleh imigrasi atau kolonisasi orang-orang Eropa,
misalnya seperti negara-negara di benua Amerika dan Australia, dan tidak
terbatas hanya oleh imigran dari Eropa Barat. Eropa tengah juga dianggap
sebagai penyumbang unsur-unsur asli dari kebudayaan Barat.
Beberapa kecenderungan yang dianggap mendefinisikan
masyarakt Barat moderen, antara lain dengan adanya pluralisme politik,
berbagai subkultur atau budaya tandingan penting (seperti
gerakan-gerakan Zaman baru), serta peningkatan sinkretisme budaya sebagai
akibat dari globalisasi dan migrasi manusia.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar